Bagaimanakah corak kehidupan pada masa bercocok tanam
Perubahan masa menjadi masa bercocok tanam membutuhkan waktu yang cukup
panjang, ha ini disebabkan karena tingkat kesulitan yang tinggi.
Pada masa ini telah dimulai untuk mertempat tinggal secara menetap di
suatu perkampungan. Selain itu juga mulai terdapat kerjasama dan peningkatan
unsur kepercayaan yang diharapkan adanya peningkatan kesejahteraan terhadap
masyarakat dan ketenteraman hidupnya.
- Manusia
Manusia yang ada di masa bercocok tanam di wilayah Indonesia Barat
dipengaruhi dari ras Mongoloid, sedangkan untuk wilayah Indonesia Timur sampai
dengan sekarang lebih dipengaruhi oleh komponen Austromelanesoid.
Manusia sudah mulai berkembang sebab hasil dari peternakan dan pertanian
sudah bisa memenuhi kebutuhan pangan. Banyaknya anak akan lebih menguntungkan,
hal in disebabkan bagi mereka yang memiliki anak yang banyak bisa menghasilkan
makanan yang lebih banyak pula.
- Teknologi
Masa untuk bercocok tanam di wilayah Indonesia di awali dengan mulai
berkembangnya kemampuan daam mengasah peralatan dari batu dan juga mulai
mengenal adanya teknologi dalam membuat gerabah.
- Kehidupan masyarakat
Kondisi dari masyarakatnya adalah mulai meninggalkan cara-cara berburu
dan mengumpulkan makanan. Manusia purba telah menetap pada suatu tempat dengan
kehidupan yang baru, yaitu dengan bercocok tanam walaupunn dengan cara yang
sederhana dan juga mereka memulai memelihara hewan.
Proses dari perubahan tata kehidupan ditandai dengan adanya perubahan
tata cara dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dan terjadi secara perlahan-lahan.
Untuk tempat tinggal secara perlahan-lahan mulai berubah yaitu dari
bentuk yang masih sangat sederhana yang berbentuk bentuk bulat dengan atap dan
juga dindingnya adalah rumbai, secara perlahan-lahan berubah ke bentuk yang
lebih maju yang mempunyai daya tampung lebih banyak.
- Pemujaan roh nenek moyang
Adat kebiasaan masyarakat pada waktu itu adalah melakukan pemujaan
terhadap roh leluhur ataupun kepercayaan terhadap adanya kekuatan gaib atau
yang kit akenal sebagai animisme dan dinamisme.
Mereka sudah mulai percaya adanya kepercayaan mengenai kehidupan setelah
mati, bahwa roh seseorang tidak hilang pada saat orang meninggal. Mereka
melakukan upacara pemakaman sedemikian rupa supaya roh orang yang meninggal
tidak salah jalan.
Adanya tradisi untuk mendirikan bangunan megalitik (batu besar)
didasarkan pada kepercayaan yang mana terdaoat hubungan antara yang hidup
dengan yang sudah mati. Terutama terhadap adanya pengaruh dari yang roh telah
mati kepada kesejahteraan mereka dan juga terhadap kesuburan tanaman.
0 comments: