Bagaimanakah kehidupan politik kerajaan mataram kuno
Kehidupan Politik Kerajaan Mataram diperintah oleh dua dinasti atau
wangsa yaitu wangsa Sanjaya yang beragama Hindu Syiwa dan wangsa Syaelendra
yang beragama Budha. Pada awalnya mungkin yang berkuasa adalah wangsa Sanjaya,
hal ini sesuai dengan prasasti Canggal.
Tetapi setelah perkembangan berikutnya muncul keluarga Syaelendra.
Menurut para ahli, keluarga Sanjaya terdesak oleh Keluarga Syailendra, tetapi
mengenai pergeseran kekuasaan tersebut tidak diketahui secara pasti, yang jelas
kedua-duanya sama-sama berkuasa di Jawa Tengah dan memiliki hubungan yang erat,
hal ini sesuai dengan prasasti Kalasan.
Raja-raja yang berkuasa dari keluarga Syaelendra
- Bhanu
- Wisnu
- Indra
- Samaratungga
- Samaragrawira
Kedua dinasti tersebut akhirnya bersatu dengan adanya pernikahan Rakai
Pikatan dengan Pramudyawardani yang bergelar Sri Kahulunan. Pramudyawardani
tersebut adalah putri dari Samaratungga.
Raja Samaratungga selain mempunyai putri Pramudyawardani, juga mempunyai
putera yaitu Balaputradewa (karena Samaratungga menikah dengan keturunan raja
Sriwijaya).
Kegagalan Balaputradewa merebut kekuasaan dari Rakai Pikatan, maka
menyingkir ke Sumatera menjadi raja Sriwijaya. Untuk selanjutnya pemerintahan
kerajaan Mataram dikuasai oleh dinasti Sanjaya dengan rajanya yang terakhir
yaitu Wawa.
Pada masa pemerintahan Wawa sekitar abad 10, Mataram di Jateng mengalami
kemunduran dan pusat penerintahan dipindahkan ke Jawa Timur oleh Mpu Sindok.
Dengan adanya perpindahan kekuasaan dari Jateng ke Jatim oleh Mpu
Sindok, maka Mpu Sindok mendirikan dinasti baru yaitu dinasti Isyana dengan
kerajaannya adalah Medang Mataram.
Pada tahun 1017 M kerajaan Medang pada masa Dharmawangsa mengalami
pralaya/kehancuran akibat serangan dari Wurawari dan yang berhasil meloloskan
diri dari serangan tersebut adalah Airlangga.
Tahun 1023 Airlangga dinobatkan oleh pendeta Budha dan Brahmana (pendeta
Hindu) menjadi raja Medang menggantikan Dharmawangsa.
Usaha-usaha yang dilakukan oleh Airlangga mendatangkan keamanan dan
kemakmuran bagi rakyatnya. Tetapi kemudian tahun 1041, Airlangga mundur dari
tahtanya dan memerintahkan untuk membagi kekuasaan menjadi 2 kerajaan.
Kedua kerajaan tersebut adalah Jenggala dan Panjalu. Pada awalnya
pembagian kerajaan tersebut dalam rangka menghindari perebutan kekuasaan
diantara putera-putera Airlangga. Tetapi ternyata hal ini yang menjadi penyebab
kerajaan Medang mengalami kehancuran.
0 comments: